Jasa Pembuatan High and Best Use Study dan Kaitannya dengan Optimalisasi Aset

Langkah-langkah Optimalisasi Aset Setiap perusahaan memiliki tatanan operasional yang bekerja untuk mengelola segala jenis urusan. Mereka terbagi menjadi beberapa bagian yang memiliki tugas-tugas berbeda. Adapun tim operasional merupakan kelompok yang memiliki wewenang dalam pengelolaan aset perusahaan. Aset merupakan modal berharga dan sangat penting dalam mencapai sebuah tujuan dari perusahaan maupun organisasi.

Namun nyatanya, beberapa perusahaan justru tidak mengelola asetnya dengan baik, sehingga tidak mendapatkan keuntungan yang diharapkan. Menurut Priyatiningsih, berikut merupakan masalah dalam pengelolaan yang kerap dijumpai:

a. Jumlah aset yang banyak dan tersebar di beberapa wilayah.

b. Penanganan spesifik dari aset

c. Nilai tertentu pada aset yang dikaitkan dengan posisi geografis.

d. Pemasalahan legal yang berbeda-beda.

e. Pemanfaatan yang belum mencapai titik optimal sehingga kondisinya masih rendah.

f. Aset dicatat secara tidak sistematis

g. Manajemen data manual.

h. Rencana pemanfaatan aset belum sepenuhnya optimal.

Hal-hal tersebut yang hingga kini ditanggulangi oleh perusahaan demi terwujudnya sebuah tujuan. Untuk mengatasi semua itu adalah dengan mengoptimalisasikan aset.

Menurut Bloom Quist dan Oldach (2005), optimasi merupakan suatu tindakan, proses atau metodologi dengan membuat suatu desain, sistem atau keputusan sempurna, fungsional dan efektif. Sementara itu, optimalisasi aset yakni memaksimalkan nilai aset untuk bisnis melalui menajamen risiko. Atau bisa juga di sebut kajian High and best Use Study. Jasa Pembuatan High and best use study juga sudah tersedia di Indonesia.

Aset tersebut berupa ketersediaan barang dan jasa, produk, jumlah modal, peluang usaha dan semua yang berhubungan dengan perencanaan.

sumber : pexels.com

Perencanaan juga berdasarkan hasil terdahulu dan kemudian dievaluasi untuk membuat optimalisasi kedepannya. Optimalisasi tidak lain adalah untuk memanfaatkan aset perusahaan agar berjalan secara maksimal. Maka dari itu sebelum melakukan optimaliasasi,

ada baiknya perusahaan mengetahui terlebih dahulu faktornya, seperti aspek legal, fisik, ekonomi rendah, dan lain sebagainya. Untuk mengoptimalkan aset tersebut, lebih baik lakukan identifikasi dan dikelompokkan berdasarkan potensinya. Menurut pendapat dari Nugent (2010), optimalisasi pemanfaatan sebuah aset diharapkan untuk menghasilkan manfaat, terlebih pendapatan.

Potensi yang sudah dikelompokkan berdasarkan sektor unggulan bisa menjadi tumpuan dalam strategi pengembangan ekonomi nasional, baik dalam jangka panjang maupun pendek. Sementara apabila menemukan aset yang tidak optimal, maka perlu dicari terlebih dahulu penyebabnya. Optimalisasi aset juga merupakan langkah yang ditempuh untuk menghindari idle asset / idle capacity.

Optimum yang dimaksud yakni mengacu pada kualitas, sehingga bukan berarti untuk memaksimalkan ketersediaan aset itu sendiri. Pengelolaan aset perlu memaksimalkan maxime asset availability atau ketersediaan aset, maxime asset utilization atau penggunaan aset, dan minimize cost ownership atau biaya kepemilikan. Dalam bukunya, Djumara (2007) menjabarkan

langkah-langkah optimalisasi aset agar tidak terjadi hambatan dalam pengelolaan:

A. Identifikasi aset Sebelum dilakukan langkah lebih dalam, ada baiknya untuk mengindentifikasi semua aset yang dimiliki. Pengelompokkan berdasarkan ukuran, legal status, fisik dan kondisi. Adapun tujuan dari pengkalsifikasian ini adalah untuk mengetahui kelengkapan dokumen, baik legal maupun analisis yuridis.

Nantinya akan diketahui aset mana saja yang bermasalah, sehingga dapat diberikal legal opinian. Maka pada problem tersebut, selanjutnya akan dilakukan penganalisisan mendalam serta bagaimana cara menanganinya.

B. Penilaian terhadap aset tetap Penilaian bertujuan untuk mengetahu market value atau nilai pasar terhadap obyek properti. Kegiatan ini dilakukan dengan beberapa pendekatan, yakni,

1. Pendekatan data pasar (market data approach) yang menggunakan metode perbandingan langsung. 2. Pendekatan biaya (cost approach) yang menggunakan biaya pengganti baru disusutkan. 3. Pendekatan pendapatan (income approach) yang menggunakan metode arus kas terdiskonto. 4. Pendekatan pengembangan tanah (land development approach) dengan land residual method. C. Analisis optimalisasi dengan pemanfaatan fixed assets Langkah selanjutnya yakni analisis optimalisasi dengan memanfaatkan fixed assets. Tujuan dari dilakukannya yang untuk mengidentifikasi serta mengetahui aset yang masuk dalam operasional mupun non operasional.

sumber : http://studikelayakan.com/

Pada aset operasional akan dilakukan kajian mendalam untuk mengetahui sejauh mana pengoptimalan pemanfaatan. Jika belum optimal, maka lakukan studi optimalisasi. Pengkajian tersebut dilakukan berdasarkan tolak ukur kebutuhan aset yang dikaitkan dengan kegiatan usaha. Sementara pada aset non operasional, penganalisisan dilakukan pada aset saat ini. Optimaliasasi aset dapat diketahui melalui penggunaan tanah dalam bangunan dan fungsional bangunanya ditinjau dari sisi ekonomis.

Analisis ini bisa mencakup segala aspek, meliputi regulasi, pengembangan sekitar dan peruntukkan.

Sistem Informasi Manajemen Aset (SIMA) Langkah selanjutnya yakni dengan Sistem Informasi Manajemen Aset (SIMA) yang digunakan sebagai alat untuk optimalisasi dan efisiensi pengelolaan aset. Konsep ini memadukan menggabungkan beberapa keahlian untuk menunjang pemanfaatan terbaik dari aset.

Melalui langkah-langkah tersebut, pemanfaatan aset perusahaan yang telah dioptimalisasi juga harus sesuai dengan peruntukkan atau penggunaan. Pada dasarnya, hal tersebut harus sesuai dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 96/PMK.06/2007. Disebutkan bila pemanfaatan bisa dalam bentuk sewa, kerja sama, bangun serah guna, pinjam pakai, dan bangun serah guna tetapi tidak mengubah kepemilikan.

Sebagai penunjang dari pemanfaatan, perlu adanya pemeliharaan yang ditentukan oleh sumber dana, metode, dan biaya. Dana yang digunakan untuk pemeliharaan pemanfaatan haruslah jelas, apakah berasal dari pendapatan atau pengelolaan aset itu sendiri. Kemudian, beranjak pada analisa rencana Pemanfaatan dengan tujuan agar berjalan secara maksimal. Adapun langkah-langkahnya yakni: 1. Menyusuun data/aset barang dalam bebagai bidang, a. Data teknis aset b. Data lingkungan keberadaan aset c. Data legal aset d. Data ekonomis aset e. Data sosial 2. Meniliti peluang pada aset/barang untuk pengoptimalan dari segi, teknis, lingkungan, legal, ekonomis dan sosial. 5 3. Mengalanisis potensi dari aset, sehingga optimalisasi dapat dilihat dari segi

a. Marketability (pemasaran) b. Profitability (dari segi pendapatan/uang) c. Technical viability (dari segi teknis yang dilihat dari lingkungan) d. Berdasarkan legal yang sekiranya bisa cukup menunjang aset. 4. Penyusunan rancangan program optimalisasi, meliputi: a. Menyusun rancangan program optimalisasi pemanfaat untuk masing-masing aset b. Menyusun perkiraan pendapatan dari aset yang dioptimalisasikan. c. Menyusun rancangan pengelola/pelaksa dari aset, seperti swakelola atau pihak ketiga.

Secara umum tujuan dari diadakannya optimalisasi aset dan pemanfaatannya lebih dalam agar mudah mengidentifikasi dan inventarisasi semua aset milik perusahaan yang meliputi ukuran, fisik, legal,serta nilai pasar masing-masing. Sehingga nanti dapat dilihat manfaat ekonomisnya. Selain itu, dari sana juga dapat diketahui pemanfaatan aset apakah sesuai atau tidak. Ketidak sesuaian tersebut dapat mempengaruhi produksi dan market, sehingga berimbas pada masalah aset operasional itu sendiri.

Ada pula sistem informasi dan administrasi yang lebih tertata, sehingga tercapainya efisiensi dan efektivitas pengelolaan aset. Nantinya hasil akhir dari optimalisasi ini berupa sasaran tepat, strategi yang terealisasi, sehingga pengoptimalan aset dalam dilakukan secara maksimal. Manajemen dan pengelolaan aset yang baik akan membawa perusahaan pada tujuannya. Langkah-langkah di atas juga memungkinkan suatu organisasi kembali efektif dalam menjalankan pengaturan operasional. Ada baiknya pula lakukan evaluasi setiap minggu untuk mengetahui adanya ketidak optimalan sehingga bisa dilakukan dengan segera, baik bagi perusahaan dalam satu wilayah maupun yang tersebar.